Lupa Pembawa Petaka
kembali lagi di pukul tengah malam ini, kali ini saya akan menceritakan pengalaman ayah saya.
Peristiwa ini terjadi pada waktu ayah saya masih muda. Saat itu keluarga ayah saya termasuk keluarga sederhana, nasi yang sering dimakan saja adalah nasi sisa sisa kemarin, dan masih tergantung dengan alam untuk memenuhi kebutuhan. Pada suatu sore ayah saya berinisiatif untuk mencari ikan agar bisa dimakan bersama keluarga, ya setidaknya makan ikan lah hari ini. Bergegaslah ayah saya mengambil pancing lalu ke rumah paman saya untuk mengajaknya memancing. Akan tetapi sialnya paman saya tidak ada di rumah. Kata ibunya dia lagi ke sawah. "Yahhh baru mau diajak mancing." kata ayah saya. Dengan merasa kesal ayah saya langsung pergi ke sungai yang kebetulan ada di bawah rumah paman saya. Sesampainya di sungai ayah saya mencari tempat duduk dulu sambil memakaikan umpan ke kail. Saat sudah selesai mulailah ayah saya memancing. Di rumah kakek dan nenek saya sudah kebingungan mencari ayah saya. Karena ayah saya tidak bilang pergi memancing. Bahkan semua keluarga tidak tahu. Sedangkan, di sungai ayah saya masing terus memancing dia heran kenapa hari ini begitu susah mendapatkan ikan. Karena fokus untuk mendapatkan ikan tanpa ia sadari hari sudah petang, jam sudah menunjukkan pukul enam petang. Tetapi ayah saya masih terus memancing karena belum juga mendapatkan ikan sampai suatu ketika terdengar suara " braaakkkkkk blurrrrrrr". Ayah saya terkejut langsung menengok ke arah samping, ternyata hanya buah kelapa saja. Dengan mulai merasa takut ayah saya melanjutkan memancing. Lalu dia melihat ada benda yang mendekat. Benda itu ternyata buah kelapa yang tadi. Buah kelapa yang harusnya hanyut dari hulu ke hilir ini berenang ke hilir melawan arus mendekati ayah saya. Saat ayah saya melihat kelapa itu tiba-tiba menjadi busuk dan tumbuh rambut diatasnya. Dengan seketika ayah saya lari terbirit-birit. Sesampainya di rumah ia menceritakannya dengan kakek saya. Saat itulah dia merasa marah karena sampai lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat Kliwon salah satu hari yang sangat sakral di bali.
Sekian cerita tengah malam kali ini. Semoga kalian merasa terhibur.
Tetap ingat waspadalah selalu pada tengah malam. Sampai jumpa...
Peristiwa ini terjadi pada waktu ayah saya masih muda. Saat itu keluarga ayah saya termasuk keluarga sederhana, nasi yang sering dimakan saja adalah nasi sisa sisa kemarin, dan masih tergantung dengan alam untuk memenuhi kebutuhan. Pada suatu sore ayah saya berinisiatif untuk mencari ikan agar bisa dimakan bersama keluarga, ya setidaknya makan ikan lah hari ini. Bergegaslah ayah saya mengambil pancing lalu ke rumah paman saya untuk mengajaknya memancing. Akan tetapi sialnya paman saya tidak ada di rumah. Kata ibunya dia lagi ke sawah. "Yahhh baru mau diajak mancing." kata ayah saya. Dengan merasa kesal ayah saya langsung pergi ke sungai yang kebetulan ada di bawah rumah paman saya. Sesampainya di sungai ayah saya mencari tempat duduk dulu sambil memakaikan umpan ke kail. Saat sudah selesai mulailah ayah saya memancing. Di rumah kakek dan nenek saya sudah kebingungan mencari ayah saya. Karena ayah saya tidak bilang pergi memancing. Bahkan semua keluarga tidak tahu. Sedangkan, di sungai ayah saya masing terus memancing dia heran kenapa hari ini begitu susah mendapatkan ikan. Karena fokus untuk mendapatkan ikan tanpa ia sadari hari sudah petang, jam sudah menunjukkan pukul enam petang. Tetapi ayah saya masih terus memancing karena belum juga mendapatkan ikan sampai suatu ketika terdengar suara " braaakkkkkk blurrrrrrr". Ayah saya terkejut langsung menengok ke arah samping, ternyata hanya buah kelapa saja. Dengan mulai merasa takut ayah saya melanjutkan memancing. Lalu dia melihat ada benda yang mendekat. Benda itu ternyata buah kelapa yang tadi. Buah kelapa yang harusnya hanyut dari hulu ke hilir ini berenang ke hilir melawan arus mendekati ayah saya. Saat ayah saya melihat kelapa itu tiba-tiba menjadi busuk dan tumbuh rambut diatasnya. Dengan seketika ayah saya lari terbirit-birit. Sesampainya di rumah ia menceritakannya dengan kakek saya. Saat itulah dia merasa marah karena sampai lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat Kliwon salah satu hari yang sangat sakral di bali.
Sekian cerita tengah malam kali ini. Semoga kalian merasa terhibur.
Tetap ingat waspadalah selalu pada tengah malam. Sampai jumpa...

Wahh
ReplyDeleteIhh seremmm
ReplyDeleteGa berani akutuhh
ReplyDeleteTakut kak
ReplyDeleteGa bisa tidur habis baca cerita inii😱
ReplyDeleteSerem
ReplyDeleteIhhh serem 😱😱
ReplyDeleteInspirasi
ReplyDelete